Beritacom, Jakarta – Perjuangan dan tanggung jawab tidak pernah berhenti. Setelah menyelesaikan rangkaian tugas dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Istana Negara pada 17 Agustus 2026, Ipda Pol Efraim Kalalembang, S.Tr.K. kembali bersiap menjalankan amanah berikutnya.
Dalam rangkaian upacara tersebut, Efraim mendapat kepercayaan sebagai salah satu komandan yang terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara kenegaraan. Kepercayaan itu dijalani melalui proses latihan yang panjang, disiplin, serta membutuhkan kesiapan fisik dan mental.
“Selama kurang lebih satu bulan kami menjalani latihan setiap hari. Menjelang hari pelaksanaan, seluruh pasukan dan para komandan kembali disatukan dan dikontrol secara menyeluruh agar benar-benar siap menjalankan tugas masing-masing,” ujar Efraim.
Menurutnya, rasa lelah selama menjalani latihan terbayarkan dengan kebanggaan ketika seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana dengan baik.
“Sekalipun kami lelah, kami sangat bangga dan bahagia karena dapat menjalankan tugas yang dipercayakan kepada kami. Bisa menjadi bagian dari Upacara Kemerdekaan di Istana Negara merupakan pengalaman dan kehormatan yang tidak akan mudah dilupakan,” katanya.
Atas keberhasilan pelaksanaan rangkaian upacara tersebut, para komandan yang terlibat juga mendapat kesempatan untuk menghadap Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Momentum itu menjadi pengalaman yang semakin berkesan setelah seluruh personel menjalani latihan secara intensif selama berminggu-minggu.
Setelah menyelesaikan rangkaian tugas pada bulan Agustus, Ipda Pol Efraim Kalalembang, S.Tr.K. memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan Strata Dua (S2) di London School of Economics and Political Science (LSE), London, Inggris, pada bidang Criminal Justice Policy yang berkaitan erat dengan kriminologi dan kebijakan peradilan pidana.
Kesempatan melanjutkan pendidikan tersebut menjadi amanah baru yang tidak kalah penting. Dari tugas kenegaraan di Istana, Efraim akan melangkah menuju kehidupan akademik di London dengan membawa semangat yang sama: disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab.
Di balik perjalanan tersebut, terdapat dukungan keluarga yang senantiasa menjadi kekuatan bagi Efraim. Ia merupakan putra bungsu dari Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang dan Christine Kalalembang.
Sebagai seorang ayah, Frederik sejak awal selalu menanamkan nilai kedisiplinan kepada Efraim. Ia juga terus mengingatkan putranya agar di mana pun berada tetap menghormati senior, menghargai rekan sejawat, menjaga hubungan baik dengan kerabat, serta tidak melupakan nilai-nilai persaudaraan.
“Sebagai orang tua, saya selalu mengingatkan Efraim bahwa kemampuan dan pendidikan saja tidak cukup. Disiplin harus dijaga, senior harus dihormati, rekan harus dihargai, dan hubungan dengan keluarga maupun kerabat harus tetap dipelihara.
Jangan merasa lebih tinggi hanya karena mendapat kesempatan atau kepercayaan. Semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijaga,” pesan Frederik.
Sementara itu, sang ibu, Christine Kalalembang, senantiasa memberikan dukungan melalui doa. Di tengah berbagai tugas dan perjalanan yang harus dijalani putranya, doa seorang ibu menjadi kekuatan tersendiri agar Efraim selalu diberikan perlindungan, kesehatan, serta kemudahan dalam setiap langkahnya.
“Sebagai ibu, yang bisa saya lakukan adalah terus mendoakan agar Efraim selalu berada dalam perlindungan Tuhan, diberikan kesehatan, kemudahan, dan kekuatan dalam menjalankan setiap tugas maupun pendidikannya.
Kami berharap ia tetap rendah hati dan tidak melupakan siapa dirinya serta dari mana ia berasal,” demikian harapan Christine.
Bagi Efraim, dukungan kedua orang tua tersebut menjadi pengingat bahwa setiap keberhasilan tidak pernah berdiri sendiri. Ada doa, pengorbanan, nasihat, serta orang-orang yang terus memberikan dukungan di belakang setiap perjalanan.
Ipda Pol Efraim Kalalembang, S.Tr.K. saat masih taruna Akpol bersama kedua orang tuanya Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang bersama ibu Apriana Christine Tangjong
“Setelah menyelesaikan tugas upacara ini, saya akan segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi. Saya mohon doa agar seluruh proses pendidikan dapat saya jalani dengan baik, penuh kesungguhan, disiplin, dan tanggung jawab,” ungkap Efraim.
Ia menyadari bahwa pendidikan di luar negeri bukan semata-mata kesempatan untuk memperoleh gelar, tetapi juga sebuah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.
“Bidang yang akan saya pelajari berkaitan dengan Criminal Justice Policy, kriminologi, dan kebijakan peradilan pidana. Saya berharap ilmu yang diperoleh nantinya dapat menjadi bekal dalam tugas serta memberikan manfaat bagi institusi dan masyarakat,” ujarnya.
Bagi keluarga Kalalembang, perjalanan Efraim dari Istana Negara menuju London bukan semata cerita tentang keberhasilan seorang anak. Perjalanan itu juga merupakan bagian dari doa orang tua, pendidikan keluarga, disiplin, dan kepercayaan yang terus dibangun sejak kecil.
“Tugas dan tanggung jawab merupakan bagian dari jiwa pengabdian yang harus saya laksanakan. Ketika diberikan kepercayaan, saya harus menjawabnya dengan kerja keras, kedisiplinan, dan kesungguhan.
Saya juga selalu mengingat pesan orang tua untuk tetap rendah hati, menghormati senior dan rekan, serta tidak melupakan keluarga dan orang-orang yang selama ini mendukung saya.”
Satu tugas telah selesai, tetapi perjalanan masih panjang. Dari barisan upacara di Istana Negara menuju ruang perkuliahan di London, Efraim membawa doa kedua orang tua dan satu prinsip sederhana:
“Di mana pun berada, jaga kepercayaan, hormati orang lain, tetap disiplin, dan berikan yang terbaik.” pungkasnya. (RSD)





Tinggalkan Balasan