BERITACOM – JAKARTA, — Kritik tajam terhadap arah kepemimpinan nasional kembali mencuat di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas. Kali ini datang dari Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari) Habib Umar Alhamid yang secara terbuka memberikan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dalam sebuah diskusi di Podcast Sinkos (Sinergi Konstruktif), Habib Umar tidak sekadar menyampaikan kritik, tetapi juga menggarisbawahi adanya momentum krusial yang menurutnya akan menentukan arah masa depan Indonesia.

Habib Umar menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa kepemimpinan nasional harus lebih berani mengambil sikap dalam isu-isu global, khususnya yang menyangkut dunia Islam.

Ia menyinggung konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk isu Palestina dan Iran, yang menurutnya membutuhkan sikap tegas dari Indonesia.

Baca juga  Habib Umar Alhamid Gelar Doa dan Zikir untuk Keselamatan Bangsa, Serukan Persatuan Tetap Dijaga !

“Indonesia ini bukan negara kecil. Dunia melihat kita. Jangan sampai kita kehilangan momentum hanya karena terlalu berhati-hati,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Menurutnya, sikap yang terlalu defensif justru berisiko ditafsirkan sebagai ketidaktegasan di mata dunia internasional.

Selain isu global, kritik juga diarahkan pada kondisi domestik. Habib Umar menilai arah kebijakan pemerintah saat ini belum memberikan kepastian yang kuat bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

Ia menekankan bahwa kepemimpinan nasional harus mampu menghadirkan kejelasan arah dan visi jangka panjang.

“Rakyat tidak butuh banyak retorika. Mereka butuh kepastian—kita ini mau dibawa ke mana,” tegasnya.

Menurutnya, ketidakjelasan arah kebijakan berpotensi menggerus kepercayaan publik dan berdampak pada stabilitas ekonomi.

Habib Umar juga menyoroti peran tim di sekitar Presiden. Ia menilai perlunya kehadiran figur-figur ahli yang mampu memberikan analisis strategis dan respons cepat terhadap dinamika global.

Baca juga  Habib Umar Alhamid Gelar Doa dan Zikir untuk Keselamatan Bangsa, Serukan Persatuan Tetap Dijaga !

“Presiden tidak boleh berjalan sendiri. Harus ada tim yang benar-benar ahli, bukan sekadar bisa,” katanya.

Ia bahkan mendorong evaluasi terhadap struktur kabinet agar lebih ramping namun efektif. “Lebih baik sedikit tapi tepat, daripada banyak tapi tidak berdampak,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, Habib Umar menyebut tahun 2026 sebagai fase krusial bagi Indonesia. Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai titik penentuan yang akan memengaruhi masa depan bangsa.

“Kalau berhasil melewati ini, ke depan akan lebih stabil. Tapi kalau gagal, kita bisa masuk fase keterpurukan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa banyak negara mengalami kemunduran bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kesalahan arah kepemimpinan.

Baca juga  Habib Umar Alhamid Gelar Doa dan Zikir untuk Keselamatan Bangsa, Serukan Persatuan Tetap Dijaga !

Pernyataan paling mencolok adalah ketika Habib Umar memberikan batas waktu tiga bulan bagi pemerintah untuk menunjukkan perubahan nyata.

“Kalau dalam tiga bulan tidak ada perubahan, keadaan bisa berbalik menghantam,” tegasnya.

Ia mengibaratkan Indonesia seperti kapal yang sedang menghadapi badai besar. Tanpa kesiapan dan arah yang jelas, risiko yang dihadapi akan semakin besar.

“Kalau tidak siap, kapal bisa hancur. Ini bukan situasi biasa,” ujarnya.

Meski menyampaikan kritik tajam, Habib Umar menegaskan bahwa pernyataannya merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa, bukan serangan politik.

Ia bahkan menyatakan keyakinannya terhadap kapasitas kepemimpinan Presiden Prabowo.

“Saya yakin beliau tangguh. Tinggal bagaimana didukung oleh sistem dan tim yang tepat, beliau (Prabowo-red) pasti bisa,” katanya. (Nn)