BERITACOM – NTT – Ada kalimat yang selalu muncul kalau orang bahas NTT: “Provinsi tertinggal”. Tapi kalimat itu tidak jujur.

Jujurnya begini: NTT bukan provinsi miskin. NTT provinsi yang dirampok aksesnya.

*1. Kaya, tapi di atas kertas saja*
Dari Flores sampai Sabu, tanah NTT nggak pernah ingkar janji. Musim kering panjang? Petani tetap nanam jagung, sorgum, kacang. Lautnya? Salah satu yang paling kaya ikan di Indonesia Timur. Rumput laut Alor, garam Rote, kopi Bajawa — semua produk ekspor.

Data BPS 2023 saja bilang NTT surplus beras dan jagung. Artinya secara pangan kita bisa kasih makan orang lain. Ini bukan provinsi yang harus impor makanan. Ini provinsi yang harusnya jadi pengekspor.

*2. Miskin karena infrastruktur dipotong di tengah jalan*
Masalahnya bukan hasil panen. Masalahnya distribusi.

Jalan nasional banyak yang statusnya “mantap” di laporan, tapi realitanya berlubang. Ongkos angkut dari Timor Tengah Selatan ke Kupang bisa 2-3x lipat harga barangnya. Akibatnya? Petani jual murah, konsumen beli mahal. Yang di tengah-tengah: tengkulak dan solar.

Pelabuhan? Kapal kargo nggak rutin. Kalau ada, nunggu seminggu. Ikan segar dari nelayan jadi ikan asin bukan karena pilihan, tapi karena nggak ada cold storage + listrik mati.

Internet? Di era digital, anak muda NTT jago konten tapi kalah sinyal. Mau jual tenun Sumba online, upload fotonya saja 30 menit. Padahal kalau koneksi bagus, 1 lembar tenun bisa tembus pasar global.

*3. Paradoks kebijakan*
Pemerintah pusat gembar-gembor “ketahanan pangan” dan “hilirisasi”. Tapi hilirisasi butuh listrik 24 jam. Ketahanan pangan butuh jalan + pelabuhan.

Ironis: provinsi yang paling siap jadi solusi pangan nasional, justru paling akhir dapat prioritas infrastruktur. Dana besar mengalir ke Jawa dan Kalimantan. NTT dapat proyek, tapi putus di jalan kabupaten.

*Kesimpulan opini saya:*
Berhenti sebut NTT “tertinggal”. Sebut saja “terisolasi”. Karena potensi ada, orangnya mau kerja, tanahnya mau kasih hasil. Yang nggak ada: jembatan antara hasil dan pasar.

Kalau negara benar mau kedaulatan pangan, bangun NTT dulu. Bukan karena kasihan. Tapi karena ini investasi paling logis. Kasih NTT jalan, listrik, pelabuhan, internet — 5 tahun lagi NTT yang kasih makan Indonesia Timur.

NTT nggak butuh bantuan. NTT butuh disambungkan.

Karena lumbung yang pintunya dikunci, isinya tetap akan busuk.

(Afrianus cundul)