BERITACOM – RUTENG — Sudah pertengahan Agustus. Di tiap tikungan jalan di Ruteng sampai Borong, warna merah putih mulai mendominasi. Gapura bambu berdiri, sound system diuji coba untuk lomba karaoke, dan anak-anak SD latihan gerak jalan.

Tahun ini Indonesia genap 81 tahun merdeka. Temanya besar, semangatnya harus besar juga. Di kantor camat, di sekolah, di warung kopi, obrolannya sama: “Tahun ini kita meriahkan.”

Tapi kalau geser beberapa ratus meter dari pusat keramaian, ceritanya beda.

Di Manggarai Timur, jalan masih jadi PR yang belum selesai.

Di ruas Borong menuju Elar, aspal sudah mengelupas. Lubang menganga seperti sengaja dibiarkan. Saat hujan, air menggenang dan motor harus zig-zag. Pernah ada warga yang jatuh karena menghindari truk dari arah berlawanan.

Lanjut ke Sambi Rampas, ada titik jalan yang ambles. Warga inisiatif uruk pakai batu sendiri. Kalau musim kemarau debunya tebal. Kalau musim hujan, becek dan licin. Mobil angkutan sayur dari desa sering telat sampai pasar karena harus pelan-pelan.

“Setiap 17 Agustus kita pasang bendera paling bagus. Rumah dicat, halaman dibersihkan,” kata Bapak Yosef, warga Ruteng yang tiap hari lewat jalur itu untuk antar anak sekolah. “Tapi pas pulang, lewat jalan yang sama, bannya bisa kena paku, motor bisa slip. Jadi bingung, yang kita rayakan itu apa.”

Kalimat itu sederhana, tapi menampar.

Kemerdekaan sudah 81 tahun. Kita merayakan dengan lomba panjat pinang, tarik tambang, dan upacara khidmat. Bendera dinaikkan, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan lantang. Semua itu penting. Itu soal identitas dan rasa bangga.

Tapi kemerdekaan juga harusnya soal jalan yang bisa dilalui tanpa takut. Soal anak bisa ke sekolah tanpa basah kuyup karena motor terperosok. Soal ibu hamil bisa sampai ke puskesmas tepat waktu.

Di Matim, dua hal itu sekarang jalan sendiri-sendiri. Eforianya ada di spanduk dan panggung. Realitanya ada di aspal yang retak.

Warga tidak anti perayaan. Mereka tetap ikut lomba, tetap upacara, tetap hormat bendera. Hanya saja mereka berharap, di tahun ke-81 ini, kemerdekaan tidak berhenti di seremoni.

Pemerintah biasanya bergerak cepat kalau sudah dekat 17-an. Ada kerja bakti, ada pengecatan trotoar, ada penambalan jalan di jalur utama. Itu bagus. Tapi warga berharap perbaikannya tidak musiman. Harapannya ada perencanaan yang sampai ke desa-desa, bukan cuma di jalan yang dilewati pejabat saat upacara.

Karena jujur saja, akan terasa hampa kalau tiap tahun kita teriak “Merdeka!” dengan semangat, lalu besok paginya tetap berangkat kerja melewati jalan yang sama rusaknya.

81 tahun bukan waktu sebentar. Cukup untuk kita bertanya: kemerdekaan seperti apa yang mau kita wariskan ke anak-anak yang sekarang latihan gerak jalan itu?

Apakah mereka akan merayakan 17 Agustus tahun depan di jalan yang sama, atau di jalan yang sudah layak?