BEITACOM – JAKARTA, — Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Ketua Umum Gerakan Cinta Negeri (Gentari) Habib Umar Alhamid menyerukan pentingnya memperkuat persatuan nasional dan ketahanan pangan dalam negeri.

Dalam podcast yang digelar pada bulan suci Ramadan, ia menilai situasi global saat ini bukan hanya konflik geopolitik, melainkan pertarungan nilai yang lebih mendasar.

“Saya melihat ini adalah peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Al-Haq dan batil. Ini harus kita tandai,” ujar Habib Umar dalam Podcast Sinkos Indonesia, kamis (5/3/2026).

Menurutnya, eskalasi di Timur Tengah berpotensi mengguncang tatanan global, termasuk Indonesia. Ia menilai agresivitas yang tampak dalam konflik tersebut mencerminkan adanya skenario jangka panjang yang telah dirancang sejak lama.

“Mereka punya rencana yang sudah diolah lama. Bagaimana mereka, menjatuhkan, atau meredam umat Islam. Dunia ini sedang dikocok, sedang diatur ulang,” katanya.

Habib Umar juga menyinggung klaim sejumlah pemimpin dunia yang menyebut diri sebagai pembawa perdamaian. Ia secara terbuka mengkritik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kerap melabeli dirinya sebagai juru damai dunia.

“Trump memberikan label pada dirinya bahwa saya adalah juru damai dunia. Tapi apa hasilnya? Justru membuat peperangan dan membunuh banyak rakyat Palestina,” ujarnya.

Baca juga  Indonesia Brahma Samaj Gelar Holika Dahan, Pererat Hubungan Budaya India–Indonesia

Ia menilai narasi self defense yang digunakan untuk membenarkan serangan terhadap Iran tidak dapat diterima mentah-mentah. “Kalau mereka bilang itu self defense, itu bohong. Siapa yang mengutak-atik mereka?” tegasnya.

Habib Umar juga mengingatkan publik pada peristiwa masa lalu, seperti tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal di Irak yang kemudian terbukti tidak berdasar. “Dulu dibilang ada senjata kimia, ternyata bohong semua. Skenario-skenario jahat itu sudah berulang kali terjadi,” ucapnya.

Konflik yang memanas turut berdampak pada stabilitas energi global, terutama setelah muncul ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Pernyataan Menteri ESDM mengenai keterbatasan cadangan minyak Indonesia hingga sekitar 20 hari menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.

Habib Umar mengingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.

“Indonesia harus membangun pertahanan pangan yang kuat. Situasi ini bergejolak sangat cepat dan mungkin tidak bisa dihentikan oleh siapa pun,” katanya.

Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada impor energi dan komoditas harus segera ditekan. Habib Umar juga merujuk pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya berdiri di atas kaki sendiri.

Baca juga  Indonesia Brahma Samaj Gelar Holika Dahan, Pererat Hubungan Budaya India–Indonesia

“Kalau Prabowo bilang kita harus berdiri di kaki kita sendiri, itu memang harus diwujudkan sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, krisis global dapat menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional. Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah pesimistis dalam menghadapi keterbatasan.

“Kita dulu hidup tanpa oil dan berbagai kemudahan seperti sekarang. Jika tidak ada api, kayu pun mesti jadi. Jangan terlalu kecil hati,” katanya.

Di tengah ketidakpastian global, Habib Umar mendorong pemerintah untuk menggalang seluruh elemen bangsa, terutama tokoh-tokoh agama, guna membahas kondisi dunia dan dampaknya terhadap Indonesia.

“Saya berharap Bapak Presiden Prabowo memanggil semua tokoh beragama untuk duduk bersama dan memberikan pemahaman tentang kondisi dunia saat ini serta peran Indonesia di kancah global,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa persatuan merupakan benteng utama dalam menghadapi potensi instabilitas. “Kita harus menjaga kesatuan. Jangan sampai tersusupi dan diacak-acak dari dalam negeri kita sendiri,” tegasnya.

Habib Umar juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas sosial di tengah derasnya arus informasi dan propaganda global. Ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu benar.

“Kita terlalu sering terperangkap dalam kebohongan. Mulai sekarang mari berpikir jernih dan melakukan gerakan anti kebohongan,” katanya.

Baca juga  Indonesia Brahma Samaj Gelar Holika Dahan, Pererat Hubungan Budaya India–Indonesia

Momentum Ramadan, lanjutnya, perlu dimanfaatkan untuk memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial. Ia mengajak umat Islam untuk mendoakan perdamaian dunia.

“Di bulan suci Ramadan kita berdoa agar segala persoalan bisa kita atasi bersama. Derita apa pun jangan membuat kita putus asa,” ujarnya.

Habib Umar juga menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda agar tidak terjebak propaganda yang dapat mengaburkan idealisme kebangsaan.

“Anak-anak muda jangan terpengaruh propaganda yang membawa kita ke arah yang tidak jelas. Ada kemunafikan yang berkedok kebaikan, itu harus kita waspadai,” katanya.

Ia menegaskan bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda.

“Kalian adalah kader masa depan. Harapan bangsa ada pada kalian. Jadilah pemuda yang menjaga negeri, menjaga harga diri bangsa, dan memiliki iman yang kuat,” tutupnya.

Di tengah gejolak global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, seruan Habib Umar menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu memperkuat fondasi internalnya, mulai dari persatuan nasional, ketahanan pangan, hingga kemandirian ekonomi, agar mampu bertahan dalam pusaran perubahan dunia yang kian dinamis. (Nn)