BERITACOM – JAKARTA, — Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Alhamid, menggelar doa dan zikir bersama pada Jumat terakhir bulan April 2026 sebagai bentuk ikhtiar spiritual menghadapi perubahan besar yang sedang melanda dunia, mulai dari perubahan iklim hingga perubahan tatanan geopolitik global yang dinilai berdampak langsung terhadap Indonesia. Zikir dan doa dihadiri Jamaah yang ada di Jabodetabek dan santri Pondok Pesantren As-Shidqu Kuningan Jawa Barat pimpinan Habib Quraisy Baharun.
Dalam keterangannya, Habib Umar menegaskan bahwa situasi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ketidak pastian global, konflik antarnegara, krisis ekonomi, hingga perubahan iklim ekstrem menjadi tanda bahwa umat dan bangsa harus meningkatkan kewaspadaan, terutama agar Indonesia tidak ikut terseret dalam pusaran kekacauan global.
“Jumat akhir bulan April 2026 ini kami adakan doa dan zikir bersama. Dunia sedang mengalami perubahan iklim dan perubahan tatanan dunia. Situasi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan dampaknya pasti sampai ke Indonesia,” ujar Habib Umar Alhamid kepada wartawan, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, kekuatan spiritual bangsa menjadi sangat penting. Ulama, santri, dan seluruh elemen masyarakat harus mengambil peran dalam menjaga ketenangan nasional melalui pendekatan moral, keagamaan, dan persatuan sosial.
Ia menilai bahwa doa dan zikir bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga bentuk ikhtiar kolektif untuk menjaga stabilitas bangsa dari ancaman perpecahan yang bisa muncul akibat provokasi politik maupun kepentingan asing yang ingin melihat Indonesia tidak stabil.
“Ulama dan santri harus hadir melakukan doa dan zikir. Ini bukan hanya soal ibadah, tapi menjaga negeri. Ketika dunia gaduh, Indonesia harus tetap tenang,” tegasnya.
Habib Umar juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang sengaja dimainkan untuk menciptakan kegaduhan nasional. Menurutnya, ada pihak-pihak yang menggunakan tipu daya jahat untuk memecah belah rakyat dan melemahkan fondasi persatuan bangsa.
“Doa dan zikir ini agar rakyat tetap bersatu, bangsa dan negara tetap kuat. Walaupun pemimpinnya kadang serong ke kanan dan ke kiri, rakyat harus tetap jalan terus, lurus, dan bersatu,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi refleksi bahwa dalam kondisi politik apa pun, rakyat tidak boleh kehilangan komitmen terhadap keutuhan negara. Habib Umar mengajak masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada elite politik, tetapi menjadikan persatuan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.
Doa dan zikir bersama yang digelar Gentari dinilai menjadi pengingat bahwa stabilitas nasional tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara, tetapi juga melalui ketenangan batin masyarakat dan kekuatan moral para tokoh agama.
Bagi Habib Umar, menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh rakyat. Ketika rakyat tetap tenang, tidak mudah diadu domba, dan terus menjaga persaudaraan, maka Indonesia akan tetap berdiri kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Negeri ini harus dijaga bersama. Persatuan adalah benteng utama kita. Kalau rakyat bersatu, Indonesia akan tetap kuat,” katanya. (Nn/red)





Tinggalkan Balasan