BERITACOM – JAKARTA, — Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Alhamid, mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak terlalu jauh berbicara soal kontestasi politik 2029. Menurutnya, tantangan paling krusial justru berada di depan mata, yakni tahun 2026, yang ia sebut sebagai fase penentuan keselamatan bangsa Indonesia.
Habib Umar menilai, kondisi ekonomi, sosial, dan penegakan hukum saat ini menunjukkan tanda-tanda yang patut diwaspadai. Ia menegaskan, tidak ada satu pun pihak yang benar-benar dapat memastikan apa yang akan terjadi pada 2026 jika persoalan mendasar rakyat tidak segera diselesaikan oleh pemerintah.
“Kita semua tidak tahu apa dan bagaimana tahun 2026 akan terjadi dan melanda rakyat bangsa Indonesia ini, jika keadaan ekonomi dan hukum masih seperti sekarang,” ujar Habib Umar dalam keterangannya, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, realitas yang dihadapi masyarakat saat ini masih jauh dari kata aman. Ia menyoroti kemiskinan yang belum teratasi, ekonomi yang semakin sulit, serta angka pengangguran yang terus meningkat. Kondisi tersebut, kata dia, bukan hanya berdampak pada kesejahteraan rakyat, tetapi juga berpotensi memicu gejolak sosial yang lebih besar.
Ia menilai, ketika kebutuhan dasar rakyat tidak terpenuhi dan lapangan kerja semakin sempit, maka kesabaran publik bisa mencapai batasnya.
“Kalau rakyat masih miskin, ekonomi sulit, pengangguran terus meningkat, dan hukum masih pandang bulu, jangan heran kalau rakyat akan marah. Dan kemarahannya akan sangat destruktif,” tegasnya
Selain persoalan ekonomi, Habib Umar juga menyoroti penegakan hukum yang dinilai belum menghadirkan rasa keadilan. Ia mengkritik praktik hukum yang dianggap tajam ke bawah namun tumpul ke atas, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap negara semakin tergerus.
Menurutnya, keadilan bukan sekadar slogan, tetapi harus benar-benar dirasakan oleh rakyat kecil. Jika hukum masih “dipermainkan” dan tidak berdiri di atas prinsip keadilan yang setara, maka stabilitas nasional akan terus berada dalam ancaman.
“Bagaimana dengan hukum? Apakah rasa keadilan bagi rakyat sudah terpenuhi? Kalau ini tidak dibenahi, bangsa ini bisa terus bergejolak. Lalu apakah kita benar-benar akan sampai pada 2029?” katanya mempertanyakan.
Habib Umar menekankan bahwa 2026 adalah tahun ujian, bukan hanya bagi pemerintah, tetapi bagi seluruh bangsa Indonesia. Ia menyebut, jika pemerintah mampu membawa rakyat keluar dari kemiskinan, menurunkan angka pengangguran, serta menghadirkan keadilan hukum yang nyata, maka Indonesia bisa melewati masa kritis tersebut dan melangkah ke 2027 dengan lebih optimistis.
Namun sebaliknya, jika persoalan-persoalan itu dibiarkan berlarut-larut, maka 2026 berpotensi menjadi tahun penuh tekanan dan ketidakpastian.
“Kalau kita bisa lepas dari 2026 dengan rakyat keluar dari masa sulit, baru kita bisa bicara soal tahun-tahun berikutnya. Jadi bicara 2029 itu masih terlalu jauh,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Habib Umar juga menyampaikan peringatan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta agar Presiden tidak terlalu cepat memuji kinerja para menterinya, mengingat banyak di antara mereka yang menurutnya belum teruji dan hasil kerjanya belum dirasakan langsung oleh masyarakat.
Habib Umar mempertanyakan apakah kerusakan yang terjadi pada periode pemerintahan sebelumnya benar-benar bisa diperbaiki, atau justru akan melahirkan persoalan baru.
“Jangan banyak memuji para menteri. Banyak yang belum teruji, realisasinya masih belum banyak dirasakan masyarakat,” tuturnya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa menggandeng figur-figur yang dinilai memiliki rekam jejak buruk dalam tata kelola negara hanya akan memperbesar risiko kegagalan pemerintahan.
“Menggandeng perusak negara, hasilnya bukan perbaikan, tapi tambah rusak,” ujarnya dengan nada keras.
Meski menyampaikan kritik tajam, Habib Umar menegaskan bahwa pernyataannya bukan didasari pesimisme, melainkan kepedulian terhadap masa depan bangsa. Ia mengajak semua pihak untuk berpikir sehat dan jujur dalam menghadapi realitas yang ada.
Menutup pernyataannya, Habib Umar menyampaikan agar Bapak Presiden mewaspadai orang-orang dalam lingkarannya. Karena bangkit serta runtuhnya seorang pemimpin bukan dari orang luar tapi lebih banyak dari dalam lingkarannya. Saat ini rakyat menaruh harapan agar Indonesia mampu melewati 2026 tanpa bencana sosial, ekonomi, maupun politik.
“Wallahu a’lam. Semoga kita semua selamat, bisa lepas dari 2026, dan masuk ke 2027 dengan keadaan yang lebih baik. Aamiin.” katanya. (Nn)





Tinggalkan Balasan