BERITACOM – SERANG — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri berhasil mengidentifikasi salah satu korban kapal Arupadhatu 1 yang sebelumnya hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Korban berinisial SU, yang merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1. Jenazah korban sebelumnya ditemukan tanpa identitas di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi Biddokkes Polda Banten dan Biddokkes Polda Bengkulu, kemudian dilanjutkan oleh tim DVI Pusdokkes Polri dengan mencocokkan data antemortem yang diperoleh dari keluarga korban.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan, identifikasi dilakukan menggunakan sejumlah data primer, antara lain sidik jari, data gigi, dan pemeriksaan DNA.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1,” ujar Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Baca juga  58 Daerah Replikasi SISGITA Tangsel, Benyamin Ungkap Manfaat Integrasi Data Tanah dan Pajak

SU merupakan salah satu korban yang hilang setelah kapal Arupadhatu 1 kehilangan kontak saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Hilang Kontak Saat Meliput Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kapal Arupadhatu 1 sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga kru menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.

Informasi mengenai hilangnya kontak kapal diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi pada Selasa, 8 September 2026 sekitar pukul 13.55 WIB dari seorang jurnalis Antara Banten.
Setelah laporan diterima, operasi pencarian dan pertolongan dilakukan oleh unsur gabungan dengan membagi wilayah pencarian ke dalam sejumlah sektor.

Hingga hari ke-10 pencarian, sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk menyisir 11 sektor.

Dalam operasi tersebut, petugas menemukan sejumlah objek yang diduga berkaitan dengan aktivitas kapal, di antaranya jaket pelampung, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal, dan galon air.

Baca juga  SMKN 1 Wanayasa gelar Expo UMKM sebagai ajang melatih Jiwa Entrepreneur siswa

Operasi SAR Dihentikan Setelah 10 Hari
Kepala Basarnas Banten Al Amrad menjelaskan, operasi pencarian dilaksanakan sesuai ketentuan selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang selama tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

“Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari,” kata Al Amrad.

Dalam masa perpanjangan tersebut, tim tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya selain sejumlah objek yang telah ditemukan sebelumnya. Atas dasar evaluasi tersebut, operasi pencarian resmi dihentikan.

Meski operasi SAR telah dihentikan, Basarnas tetap melakukan koordinasi dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian, termasuk Bengkulu dan Lampung.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” ujar Al Amrad.

Baca juga  Banyak Aduan Warga, Satpol PP Tangsel Razia Tempat Hiburan

Pemantauan Tetap Dilakukan

Al Amrad mengatakan, unsur SAR di Bengkulu juga masih melakukan penyisiran berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat.

Selain penyisiran, koordinasi dan edukasi kepada instansi terkait, nelayan, serta masyarakat pesisir terus dilakukan untuk menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban maupun benda yang berasal dari kapal Arupadhatu 1.

Penemuan jenazah di Pulau Enggano sebelumnya tidak langsung dinyatakan sebagai korban kapal Arupadhatu 1 karena masih menunggu proses identifikasi secara ilmiah.

Setelah hasil pemeriksaan DNA dan pencocokan data keluarga memastikan identitas jenazah sebagai SU, informasi tersebut kemudian disampaikan secara resmi kepada publik.

Pencarian kapal Arupadhatu 1 melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dan mencakup wilayah perairan yang luas, mulai dari Banten, Lampung hingga Bengkulu. Polri dan Basarnas bersama unsur terkait masih menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban maupun objek dari kapal tersebut.

(BidHumas)